Sebuah Perspektif Sebagai Respons Terhadap Pembatasan Pemakaian Media Sosial Bagi Anak U-16
Jarang sekali warganet Indonesia terlihat sekompak ini.
Ketika pemerintah mengeluarkan aturan baru terkait perlindungan anak di ruang digital—yang diatur melalui tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik—kolom komentar di berbagai platform justru dipenuhi dukungan. Tidak banyak debat. Tidak banyak cemoohan. Sebaliknya, banyak orang tua menulis kalimat yang nadanya hampir sama: Akhirnya.
Akhirnya ada langkah yang mencoba melindungi anak-anak dari sisi gelap dunia digital. Akhirnya ada batas.
Pemandangan seperti ini tidak terlalu sering terjadi. Biasanya setiap kebijakan publik langsung disambut dua kubu yang saling berdebat. Tapi kali ini, respons-nya relatif searah.
Namun di balik dukungan itu, ada satu hal yang mungkin belum sepenuhnya disadari: kebijakan itu barulah langkah paling awal. Karena setelah aturan itu keluar, perjuangan yang sebenarnya justru dimulai. Dan itu dimulai dari rumah masing-masing.
*
Beberapa hari terakhir, berbagai video beredar di media sosial. Anak-anak yang menangis, marah, atau tantrum karena game yang biasa mereka mainkan tiba-tiba tidak bisa diakses lagi. Roblox menjadi salah satu yang paling sering disebut.
Sebagian orang menertawakannya. Sebagian lagi menganggap itu reaksi yang berlebihan.
Padahal bagi banyak anak—terutama remaja—platform seperti itu bukan sekadar permainan. Di sana mereka punya teman. Di sana mereka punya dunia.
Bagi mereka yang pemalu di sekolah, dunia game bisa menjadi tempat pertama di mana mereka merasa cukup berani untuk berbicara. Bagi yang merasa tidak cocok dengan lingkungan sekitarnya, komunitas online bisa menjadi ruang pertama di mana mereka merasa diterima.
Ketika dunia itu tiba-tiba hilang, yang terjadi bukan sekadar kehilangan hiburan. Yang hilang bisa jadi adalah ruang sosial mereka. Dan di titik inilah keluarga sering kali baru menyadari bahwa persoalannya tidak sesederhana membatasi screen time.
Banyak orang tua mungkin akan mengambil jalan yang paling mudah.
“Maaf ya nak, sekarang memang dilarang.”
Atau:
“Bukan salah Mama, ini aturan pemerintah.”
Kalimat itu memang tidak salah. Tetapi bagi remaja yang sedang kehilangan sesuatu yang penting bagi mereka, kalimat itu sering kali terdengar seperti penutup percakapan, bukan awal. Padahal yang sebenarnya terjadi di dalam diri mereka bisa jauh lebih rumit: kecewa, marah, bingung, bahkan merasa sendirian.
Dalam psikologi perkembangan, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain merupakan kebutuhan dasar manusia. Anak secara alami mencari figur yang memberi rasa aman, merespons emosi mereka, dan hadir secara konsisten dalam hidup mereka.
Ketika kebutuhan itu tidak sepenuhnya terpenuhi di lingkungan terdekat, anak akan mencarinya di tempat lain—termasuk di dunia digital dan komunitas online. Internet hanya mempercepat proses itu.
Di sana, koneksi bisa terjadi dalam hitungan detik. Teman baru bisa ditemukan dengan mudah. Identitas bisa dibentuk ulang. Tidak heran jika bagi sebagian remaja, dunia digital terasa lebih ramah daripada dunia nyata.
Masalahnya muncul ketika dunia itu tiba-tiba dibatasi. Pertanyaan yang sering muncul dari orang tua biasanya sederhana: bagaimana cara melarang anak tanpa konflik? Padahal pertanyaan yang lebih penting mungkin justru ini: jika dunia itu hilang, apa yang akan menggantikannya? Karena manusia tidak bisa hidup lama dalam ruang kosong. Jika koneksi digital hilang sementara koneksi di rumah tidak tersedia, remaja akan tetap mencari tempat lain untuk memenuhi kebutuhan itu.
Di sinilah percakapan di rumah menjadi sangat penting—dan sering kali tidak mudah. Banyak hubungan orang tua dan anak selama ini dipenuhi oleh percakapan yang bentuknya hampir selalu sama: perintah, nasihat, atau koreksi. Padahal ketika remaja sedang kesal atau kehilangan sesuatu yang mereka sayangi, pendekatan seperti itu biasanya hanya membuat jarak semakin besar.
Psikiater Daniel Siegel pernah merangkum pendekatan yang lebih efektif dalam satu prinsip sederhana: connection before correction. Aturan jauh lebih mudah diterima ketika anak merasa terhubung secara emosional dengan orang tuanya. Artinya, sebelum menjelaskan aturan, yang lebih penting adalah mengakui dulu apa yang sedang mereka rasakan.
“Kamu kelihatan sedih banget ya sekarang nggak bisa main lagi.”
Atau:
“Pasti rasanya kayak kehilangan tempat main ya.”
Kalimat seperti ini tidak mengubah aturan apa pun. Tapi ia membuka ruang bagi anak untuk merasa dipahami. Dan dari ruang itulah percakapan yang lebih sehat bisa dimulai. Tentu saja, hubungan seperti itu tidak bisa dibangun hanya dalam satu percakapan. Hubungan dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten. Hal-hal sederhana seperti makan malam tanpa gawai, percakapan sebelum tidur, atau waktu singkat melakukan aktivitas bersama dapat menjadi cara untuk membangun kembali kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Masalahnya, tidak semua keluarga berada pada titik yang sama. Ada keluarga yang sudah terbiasa berbicara terbuka. Ada juga yang hubungannya sudah lama terasa jauh. Bagi sebagian remaja, rumah bahkan mungkin bukan tempat pertama yang mereka pikirkan ketika sedang membutuhkan seseorang untuk bicara.
Di titik seperti ini, kehadiran pihak ketiga yang aman sering kali membantu. Di sinilah peran active listener atau pendengar aktif menjadi penting.
Active listener—seperti yang disediakan oleh MGC—tidak datang untuk menggantikan peran orang tua. Mereka juga tidak hadir untuk memberikan ceramah panjang atau menghakimi pilihan remaja.
Peran mereka jauh lebih sederhana, tetapi seringkali sangat berarti: mendengarkan. Bagi anak yang tiba-tiba kehilangan dunia digitalnya, ruang seperti ini dapat menjadi tempat untuk menyalurkan emosi, menceritakan kekesalan, atau sekadar merasa didengar tanpa takut dihakimi.
Sementara bagi orang tua, kehadiran active listener juga dapat menjadi sumber perspektif baru. Mereka bisa membantu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dialami anak, serta memberikan opsi pendekatan yang lebih empatik dalam membangun kembali hubungan.
Dengan kata lain, kehadiran pendengar aktif bisa membantu membangun jembatan sementara—sampai anak-anak kembali menemukan koneksi yang lebih sehat dengan dunia nyata.
Pada akhirnya, aturan digital mungkin memang perlu. Tetapi aturan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu membutuhkan sesuatu yang lain untuk membuatnya bekerja: hubungan.
Jika selama ini internet menjadi tempat anak-anak menemukan koneksi, maka ketika ruang itu dipersempit, keluarga perlu membantu membuka ruang lain. Bukan sekadar ruang tanpa gawai. Melainkan ruang di mana anak merasa dilihat, didengar, dan diterima. Karena ketika dunia digital mengecil, satu pertanyaan penting akan muncul di setiap rumah:
Apakah dunia nyata di rumah cukup luas untuk menampung mereka?
Leave a Reply