Mendengar sebenarnya adalah aktivitas yang paling mudah. Selama manusia punya indera pendengaran yang berfungsi, suara akan masuk dengan sendirinya. Kita mendengar hujan, klakson, notifikasi ponsel, atau suara orang yang sedang bicara, semua tanpa perlu usaha apa pun.
Namun perlu dipahami, di titik ini, mendengar baru sebatas proses biologis. Otomatis. Mekanis.
Dan itu yang jamak terjadi dalam keseharian kita. Bahkan dalam mendengar cerita orang lain. Kita punya kecenderungan untuk mendengar dari sudut pandang kita sendiri. Cenderung menyaring cerita orang lain dengan pengalaman pribadi, luka lama, trauma, atau keyakinan yang sudah terbentuk dalam diri kita. Tanpa sadar, kita hanya menangkap bagian-bagian yang terasa familiar atau relevan bagi diri kita. Sisanya lewat begitu saja.
“You only hear what you want to hear.” Sering kali, kalimat ini benar adanya.
Dari potongan cerita yang tidak lengkap, kita lalu menarik kesimpulan. Menghakimi. Memberi label. Padahal yang kita dengar mungkin hanya serpihan kecil dari cerita yang jauh lebih kompleks.
Di sinilah bedanya antara mendengar dan mendengarkan:
Mendengar itu otomatis.
Mendengarkan butuh kesadaran.
Tidak semua orang bisa mendengar dengan sadar. Dan sadar di sini bukan sekadar hadir secara fisik, tapi hadir sepenuhnya baik pikiran, perhatian, juga niat. Sadar bahwa orang yang sedang bercerita belum tentu sedang meminta pendapat. Belum tentu butuh solusi. Apalagi nasihat. Sadar bahwa refleks kita untuk “membantu” sering kali justru memotong proses yang sedang dibutuhkan lawan bicara.
Kesadaran ini menuntut jeda. Menahan dorongan untuk langsung menafsirkan. Tidak buru-buru mengaitkan cerita orang lain dengan pengalaman pribadi. Tidak sibuk menyiapkan jawaban saat lawan bicara masih berbicara. Karena sering kali, yang dibutuhkan bukan respons—melainkan ruang.
Ruang aman untuk bicara. Ruang di mana seseorang bisa menyusun pikirannya sendiri lewat kata-kata. Mengeluarkan isi kepala yang sebelumnya hanya berputar-putar di dalam. Mengucapkan hal-hal yang bahkan baru terasa berat, janggal, atau tidak masuk akal setelah didengar oleh telinganya sendiri. Semua itu hanya mungkin terjadi jika ada pendengar yang hadir tanpa interupsi, tanpa evaluasi, tanpa koreksi.
Selain kesadaran, mendengarkan juga membutuhkan satu hal lagi: kepercayaan.
Percaya bahwa pada dasarnya manusia punya kapasitas untuk memahami dan mengatasi masalahnya sendiri. Percaya bahwa tidak semua orang yang bercerita sedang meminta “jawaban”. Kadang mereka hanya butuh sounding board, tempat untuk menguji isi pikirannya sendiri.
Menariknya, sering kali seseorang baru menyadari bahwa ceritanya terdengar janggal, berat, atau bahkan tidak masuk akal justru setelah dia mengucapkannya dengan lantang. Atau baru menemukan isu utama dari masalahnya lewat kata-kata kunci yang berulang kali keluar tanpa dia sadari.
Dalam proses itu, peran pendengar bukan sebagai penyelamat, bukan juga sebagai ahli. Perannya jauh lebih sederhana, namun justru krusial: hadir sepenuhnya.
Sayangnya, dunia modern tidak terlalu ramah pada proses ini. Segalanya bergerak cepat. Waktu terasa selalu kurang. Budaya instan membuat kita terbiasa dengan hasil cepat, jawaban singkat, dan solusi praktis. Akibatnya, kita juga mulai tidak percaya pada proses yang lambat—termasuk proses mendengarkan.
Kita jarang benar-benar berhenti. Jarang menjeda. Jarang memberi ruang untuk interaksi yang utuh, sadar, dan penuh kepercayaan. Padahal, kalau bicara soal relasi antar manusia, fondasinya selalu kembali ke satu hal: bagaimana kita mendengarkan satu sama lain.
Menurut Carl R. Rogers dan Richard E. Farson, mendengarkan bukanlah aktivitas pasif. Riset mereka menunjukkan bahwa active listening—mendengarkan secara utuh, sadar, dan percaya—justru punya dampak yang sangat kuat.
Manusia yang didengarkan cenderung lebih peka terhadap perasaan, kebutuhan, dan pikirannya sendiri. Mereka merasa berada di lingkungan yang aman: diterima tanpa kritik, tanpa penghakiman. Dalam kondisi seperti ini, seseorang justru menjadi lebih terbuka terhadap sudut pandang lain, lebih siap bekerja sama, dan lebih mampu berkontribusi secara sehat.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tapi tidak mudah dijawab: seberapa banyak dari kita yang benar-benar mau melatih diri menjadi pendengar seperti itu?
Sementara di sisi lain, hampir semua manusia di dunia ini butuh didengarkan. Kebutuhan ini terasa semakin kuat pada remaja dan dewasa muda, fase hidup di mana validasi, pencarian jati diri, dan rasa “aku dimengerti” menjadi sangat penting.
Mungkin dunia tidak akan langsung berubah hanya karena kita belajar mendengarkan dengan lebih baik. Tapi jika semakin banyak orang yang secara sadar melatih diri menjadi pendengar aktif—utuh, sadar, dan percaya—barangkali akan semakin banyak manusia yang tumbuh dengan keyakinan sederhana: aku didengar, tanpa dihakimi.
Dan dari keyakinan kecil itu, dunia perlahan bisa menjadi tempat hidup yang lebih manusiawi. Tentu saja, situasi ideal ini butuh waktu. Dan selalu dimulai dari sekelompok kecil orang yang mau mengambil langkah pertama—dengan sepenuh hati, dan dengan telinga yang benar-benar hadir.
Langkah pertama itulah yang kami upayakan melalui My Good Companion.

Leave a Reply